LAPORAN
PRAKTIKUM
GEOLOGI DASAR
ACARA
III
IDENTIFIKASI BATUAN SEDIMEN
NAMA : HASRUL
ABIDIN
STAMBUK : F1H1 12 013
PRODI : TEKNIK
GEOFISIKA
FAKULTAS : MIPA
KELOMPOK : III
1.
HASRUL
ABIDIN
2.
MIJAWATI
3.
WA
ODE ZAMRIANAS
4.
WIDYA
MEITA CHRISTIN
5.
NILUH
FRISTYA
6.
JEFRI
ADITOMO
ASISTEN : LISNA
HERMAWATI
LABORATORIUM
KEBUMIAN
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
HALUOLEO
KENDARI
2013
ACARA
3
IDENTIFIKASI BATUAN SEDIMEN
3.1.
Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam
praktikum acara Identifikasi Batuan Sedimen adalah sebagai berikut :
1. Praktikan
mampu mengidentifikasi batuan sedimen.
2. Praktikan
mampu menjelaskan jenis-jenis batuan sedimen.
3.2.
Landasan Teori.
Identifikasi
batuan merupakan suatu kegiatan membuat deskripsi tentang suatu batuan
tertentu. Setelah identifikasi dilakukan, maka kita dapat dengan jelas memberi
nama batuan tersebut. Sifat fisika dan kimia yang umum dikenal dalam
mengidentifikasi batuan biasanya dibagi dalam 4 kategori sifat, yaitu :
a. Warna.
b. Tekstur.
c. Struktur.
d. Komposisi
mineral pembentuk batuan.
Batuan
sedimen adalah batuan yang terbentuk dari batuan yang sudah ada sebelumnya atau
hasil aktivitas kimia maupun organisme, yang diendapkan lapis demi lapis pada
permukaan bumi dan mengalami pembatuan.
a.
Warna.
Beberapa
ciri warna mineral yang penting pada batuan sedimen :
·
Kwarsa : berwarna putih jernih, putih susu dan
tidak memiliki
Belahan.
·
Mika : apabila berwarna putih diberi nama
muskovit, bila
berwarna hitam diberi nama biotit,
keduanya dicirikan adanya belahan seperti lembaran-lembaran.
·
Feldspar : apabila berwarna merah daging diberi nama
ortoklas
(bidang
belah tegak lurus/900), bila berwarna putih abu-abu diberi nama
plagioklas (belahan kristal kembar)
·
Karbonat : biasanya mineral ini diberi nama kalsit dan
dolomit,
ciri utama mineral karbonat ini
adalah bereaksi dengan HCL.
·
Lempung : bila berwarna putih berkilap tanah disebut
kaolin
yang merupakan hasil pelapukan
feldspar, dan bila berwarna kelabu disebut illit yang merupakan hasil pelapukan
muskovit.
b.
Tekstur.
Tekstur merupakan kenampakan batuan yang berkaitan
dengan ukuran, bentuk, dan susunan butir mineral dalam batuan. Tekstur batuan
dapat dijadikan petunjuk tentang proses (genesa) yang terjadi pada waktu lampau
sehingga menghasilkan batuan tersebut.
Tekstur umum yang sering dijumpai pada
batuan sedimen yaitu :
1.
Tekstur Klastik : jenis tekstur batuan
sedimen ini merupakan hasil rombakan material-material yang telah ada
sebelumnya. Yang perlu diperhatikan pada batuan sedimen klastik adalah ukuran
dan bentuk butir. Untuk ukuran butir digunakan skala W. Wentworth, sebagai
berikut :
|
Nama
Butiran
|
Ukuran
Butir (mm)
|
|
Boulder (bongkah)
|
> 256
|
|
Cobble (brangkal)
|
64 – 256
|
|
Pebble (kerakal)
|
4 – 64
|
|
Granule (kerikil)
|
2 – 4
|
|
Sand (pasir)
|
1/16 – 2
|
|
Silt (lanau)
|
1/256 – 1/16
|
|
Clay (lempung)
|
< 1/256
|
Agar
lebih mudah melakukan pengukuran ukuran butir, maka digunakan alat pembanding
ukuran butir batuan (komparator).
Bentuk
butir dibagi dua, yaitu : membulat (rounded) dan meruncing (angular). Bentuk
butir akan mempengaruhi penamaan batuan apabila berukuran lebih besar dari 2
mm.
2.
Tekstur non-klastik : ciri khas dari tekstur non-klastik
adalah adnya kristal-kristal yang saling menjari, tidak terdapat ruang pori-pori
antar butir, dan umumnya memiliki satu jenis mineral saja (monomineralitik) dan
merupakan hasil aktivitas kimiawi, termasuk biokimia.
|
Jenis
Butir
|
Ukuran Butir (mm)
|
|
Kasar
|
> 5
|
|
Sedang
|
1
– 5
|
|
Halus
|
<
1
|
c.
Struktur.
Struktur adalah kenampakan hubungan
antara bagian batuan yang berbeda. Macam-macam struktur yang terdapat pada
batuan sedimen lebih bergantung pada hubungan antara butir yang mengontrol dari
teksturnya, antara lain dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :
1. Berlapis : bila ketebalan batuan lebih besar
dari 1 cm disebut lapisan dan bila lebih kecil dari 1 cm disebut laminasi.
2. Berdegradasi : bila butiran dalam batuan semakin
halus dari bagian atas sampai bawah.
3. Silang-siur : bila satu seri perlapisan saling
memotong dalam tubuh batuan.
d.
Komposisi
Mineral.
Mineral-mineral
yang terdapat pada batuan sedimen, antara lain : kwarsa, mika, karbonat,
mineral lempung, dan sebagainya.
e.
Sortasi.
Sortasi
atau pemilahan adalah keseragaman dari ukuran besar butir penyusun batuan
sediman, artinya bila semakin seragam ukurannya dan besar butirannya maka
pemilahan semakin baik. Secara umum sortasi atau pemilahan dibagi menjadi 3
yaitu:
·
Well sorted adalah pemilahan butiran
yang sengat baik dan seragam.
·
Medium sorted adalah pemilahan butir
yang sedang atau cukup.
·
Poor sorted adalah pemilahan butir yang
sengat buruk dan tidak seragam (Anonim, 2013 : 12-15)
”The geologic processes operating on Earth’s surface
produce only subtle changes in the land- scape during a human lifetime,but over
a period of tens of thousands or millions of years, the effect of these
processes is considerable. Given enough time,the erosive power of the
hydrologic system can reduce an entire mountain range to a featureless
lowland.In the process, the eroded debris is transported by rivers and
deposited as new layers of sedimentary rock. A series of sedimentary rock
layers may be thousands of meters thick. When exposed at the surface, each rock
layer provides information about past events in Earth’s history. Such is the
case in the Moenkopi Formation of southern Utah shown in the panorama above”.
Proses
mengenai lapisan tanah yang beroperasi di permukaan Bumi, sulit dipisahkan dengan
perubahan yang terjadi di daratan benua selama masa hidup manusia tetapi terjadi diatas masa sepuluh ribuan atau berjuta-juta
tahun, efek dari proses ini adalah pantas untuk dipertimbangkan. Pada waktu
yang tertentu, kekuatan erosi/longsor dari sistem hidrologi, dapat mengikis
secara keseluruhan dari suatu dataran
rendah. Dalam prosesnya, bekas peninggalan yang dikikis diangkut oleh sungai
dan tersimpan seperti lapisan sedimentary yang baru terbentuk. Satu rangkaian
lapisan sedimentary batu karang mungkin memiliki ketebalan beribu-ribu meter.
Ketika terangkat ke permukaan, masing-masing lapisan batu karang menyediakan
informasi tentang peristiwa yang lampau (genesa) tentang sejarah Bumi.
Peristiwa seperti itu contohnya adalah pembentukan Moenkopi di selatan Utah yang
terlihat di bagian atas permukaan (Hamblin,2004 : 120).
Struktur
sedimen merupakan suatu kelainan dari pelapisan normalbatuan sedimen yang
diakibatkan oleh proses pengendapan dan energi pembentuknya. Pembentukannya
dapat terjadi pada waktu pengendapan maupun segera setelah proses pengendapan.
Pada batuan sedimen dikenal dua macam struktur yaitu :
· Syngenetik
: terbentuk bersamaan dengan terjadinya batuan sedimen, dan disebut juga
sebagai struktur primer.
· Epigenetic
: terbentuk setelah batuan tersebut terbentuk
seperti kekar, sesar,dan lipatan.
Pembagian struktur sedimen ada
beberapa macam dan versi dari peneliti yang menganalisa dan mempelajari
struktur sedimen, pembagian struktur sedimen antara lain :
1. Struktur
sedimen primer, Struktur pada batuan sedimen yang terjadi pada saat proses
sedimentasi sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi mekanisme
pengendapan.
2. Struktur
sedimen skunder, Struktur sedimen yang terjadi pada batuan sedimen pada saat
sebelum dan sesudah proses sedimentasi yang juga dapat mereflesikan lingkungan
pengendapan, keadaan dasar permukaan, lereng, dan kondisi permukaan.
3. Struktur
sedimen organik,Struktur sedimen yang terbentuk akibat dari proses organisme
pada saat dan sesudah terjadi proses sedimentasi
(Pettijohn,1964 : 12-13)
Berbagai
sifat fisik sedimen ditelaah sesuai dengan tujuan dan kegunaannya. Diantaranya
adalah tekstur sedimen yang meliputi ukuran butir (grain size), bentuk butir (
partikel shape), dan hubungan antar butir (fabrik), struktur sedimen, komposisi
mineral, serta kandungan biota. Dari berbagai sifat fisik tersebut ukuran butir
menjadi sangat penting karena umumnya menjadi dasar dalam penamaan sedimen yang
bersangkutan serta membantu analisa proses pengendapan karena ukuran butir
berhubungan erat dengan dinamika transportasi dan deposisi.
Batuan
sedimen merupakan batuan yang menutupi dua sampai tiga permukaan bumi, hasil
dari perubahan bentuk dari baebagai batuan karena pengaruh graviti, atmosfer,
dan sisa-sisa organisme. Proses ini merupakan akibat dari penggabungan
materi-materi yang lepas yang didapat dari akumulasi mekanik dari yang halus
dan yang mempunyai fragmen kwarsa dari batuan (sedimen klastik) atau dari
pengendapan larutan atau tanpa campur tangan organisme atau sisa-sisa organisme
(Simon. 1988. 420-421).
3.3.
Alat
dan Bahan.
Adapun
alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu :
|
No.
|
Alat dan Bahan
|
fungsi
|
|
1
|
Lup
|
Untuk memperjelas kenampakan tekstur batuan termasuk butir dan susunan
butir pembentuk batuan
|
|
2
|
Larutan HCL 0.1 M
|
Untuk mengidentifikasi kandungan mineral karbonat dalam batuan
|
|
3
|
Buku Rock and Mineral
|
Sebagai bahan rujukan sekaligus pembanding atas hasil pengamatan dengan
teori yang ada.
|
|
4
|
Tabel klasifikasi
batuan sedimen
|
Membantu pengidentifikasian sampel dalam hal pemberian nama batuan sampel
|
3.4. Prosedur Kerja.
Adapun
prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum acara Identifiklasi Batuan Sedimen
adalah sebagai berikut :
1. Menyiapkan
alat dan bahan yang diperlukan.
2. Melakukan
identifikasi batuan sedimen secara megaskopik/secara kasat mata berdasarkan
sifat-sifat fisisnya :
·
Warnanya.
·
Teksturnya.
·
Strukturnya.
·
Komposisi mineral pembentuk batuan.
·
Sortasi batuan.
3.
Menentukan nama batuan yang
diidentifikasi.
4.
Mengisi lembar data pengamatan
berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan pada masing-masing batuan.
3.5.
Data
Pengamatan.
Hasil pengamatan acara
Identifikasi Batuan Sedimen adalah sebagai berikut :
Tabel
1
|
No.
|
1
|
|
No.
Urut Peraga
|
1
|
|
Warna
|
Putih susu, dan cokelat muda
|
|
Sortasi
|
-
|
|
Tekstur
|
Non-klastik
|
|
Struktur
|
Silang-siur
|
|
Komposisi
Mineral
|
Karbonat
|
|
Nama
Batuan
|
Gamping
|
|
No.
|
2
|
|
No.
Urut Peraga
|
2
|
|
Warna
|
Putih susu, dan putih abu-abu
|
|
Sortasi
|
-
|
|
Tekstur
|
Non-klastik
|
|
Struktur
|
Silang-siur
|
|
Komposisi
Mineral
|
Karbonat, dan kuarsa
|
|
Nama
Batuan
|
Gamping terumbu
|
Table 3
|
No.
|
3
|
|
No.
Urut Peraga
|
3
|
|
Warna
|
Putih jernih, dan
cokelat-kemerahan
|
|
Sortasi
|
Poor sorted
|
|
Tekstur
|
Klastik
|
|
Struktur
|
Berdegradasi
|
|
Komposisi
Mineral
|
Kuarsa, oksida besi, dan lempung
|
|
Nama
Batuan
|
Breksi
|
Table
4
|
No.
|
4
|
|
No.
Urut Peraga
|
4
|
|
Warna
|
Abu-abu, hitam, kuning-kecokelatan
|
|
Sortasi
|
Well sorted
|
|
Tekstur
|
Klastik
|
|
Struktur
|
Berlapis (laminasi)
|
|
Komposisi
Mineral
|
Plagioclase, dan lempung
|
|
Nama
Batuan
|
Tuff
|
3.6.
Pembahasan.
Pengetahuan atau
Ilmu Geologi didasarkan kepada studi terhadap batuan. Diawali dengan mengetahui
bagaimana batuan itu terbentuk, terubah, kemudian bagaimana hingga batuan itu
sekarang menempati bagian dari pegunungan, dataran-dataran di benua hingga
didalam cekungan dibawah permukaan laut. Kemanapun kita menoleh, maka akan
selalu bertemu dengan benda yang dinamakan batu atau batuan. Dari hasil pengamatan
terhadap jenis-jenis batuan tersebut, kita dapat mengelompokkannya menjadi tiga
kelompok besar, yaitu (1) batuan beku, (2) batuan sedimen, dan (3) batuan
malihan atau metamorfis. Namun, pada percobaan kali ini kami hanya memfokuskan
pembahasan pada masalah identifikasi batuan sedimen.
Sebelum kita
membahas lebih jauh, terlebih dahulu perlu kiranya kita mengetahui pengertian
batuan sedimen itu sendiri. Batuan sedimen (endapan) adalah batuan yang
terbentuk dari endapan material yang berasal dari pecahan, bongkah batuan yang
telah hancur karena proses alam, kemudian terangkut (tertransportasi) oleh
media air, angin, es dan terakumulasi dalam satu tempat (cekungan), kemudian
termanpatkan/kompaksi (compacted) yang disertai dengan proses sementasi
(cementation) menjadi satu lapisan batuan baru melalui proses litifikasi. Ciri
utama batuan sedimen itu sendiri adalah memiliki tekstur berlapis sebagai
akibat terjadinya pengulangan endapan.
Representasi
dari praktikum acara Identifikasi Batuan Sedimen ini yaitu, kami selaku
praktikan dituntut agar mampu mengidentifikasi batuan sedimen, dan mampu
menjelaskan jenis-jenis batuan sedimen. Oleh karena percobaan kali ini hanya
berorientasi pada pengamatan secara megaskopik (kasat mata), maka perlu kiranya
kita mengetahui sifat fisika dan kimia yang umum dikenal dalam mengidentifikasi
suatu batuan sedimen. Adapun sifat-sifat yang dimaksud yaitu : warna, tekstur,
struktur, komposisi mineral pembentuk batuan sedimen itu sendiri, serta sortasi.
Pada percoban
yang pertama, kami mencoba mengidentifikasi sebuah sampel batuan sedimen yang
kemudian diberi tanda nomor peraga 1. Berdasarkan pengamatan secara visual,
hasil yang kami dapatkan yaitu, batuan sedimen dengan nomor peraga 1 tersebut
memiliki kenampakan warna berupa warna putih susu, dan cokelat muda.
Warna-warna tersebut mengindikasikan bahwa sampel batuan sedimen yang dimaksud
tersusun atas mineral karbonat karena setelah direaksikan dengan larutan HCL
yang memiliki konsentrasi 0.1 M, sampel tampak bereaksi dengan kenampakan
gelembung udara pada permukaan sampel. Aspek pengamatan selanjutnya yaitu
tekstur batuan. Karena sampel yang diamati hanya tersusun atas satu jenis
mineral saja (monomineralitik) dan merupakan hasil aktivitas kimiawi termasuk
biokimia, maka jenis tekstur yang dimiliki oleh sampel dengan nomor peraga 1
ini adalah non-klastik. Selanjutnya
yaitu sortasi. Sortasi atau pemilahan adalah keseragaman dari ukuran besar
butir penyusun batuan sedimen, artinya bila semakin seragam ukurannya dan besar
butirannya maka pemilahan semakin baik. Oleh karena sampel yang diamati hanya
tersusun atas satu mineral (bertekstur non-klastik), maka sampel dengan nomor
peraga 1 ini tidak memiliki sortasi atau dengan kata lain sortasi yang
dimilikinya berjenis buruk. Aspek tinjauan selanjutnya adalah struktur batuan.
Oleh karena kenampakan hubungan antar bagian batuan yang berbeda memiliki satu
seri perlapisan yang saling memotong, maka jenis struktur yang dimaksud adalah
silang-siur. Dari semua hasil pengidentifikasian yang kami
lakukan di atas, yang selanjutnya dari hasil-hasil tersebut kami sesuaikan dengan
teori yang ada maka dapat kami simpulkan bahwa nama sampel batuan sedimen dengan nomor peraga 1 ini adalah gamping.
Percobaan
selanjutnya yang kami lakukan yaitu pengidentifikasian terhadap sampel batuan sedimen yang ke dua dengan nomor peraga 2. Dengan cara dan
metode yang sama terhadap pecobaan pertama, maka hasil yang kami dapatkan
yaitu, kenampakan warna yang terkandung dalam sampel diantaranya adalah putih abu-abu/putih susu. Kenampakan warna
tersebut mengindikasikan bahwa sampel batuan yang dimaksud tersusun atas mineral kuarsa. Selain itu karena sampel yang digunakan bereaksi
dengan larutan HCL 0.1 M, maka mineral lain yang terkandung dalam sampel adalah
karbonat. Pengamatan selanjutnya terhadap jenis tekstur batuan, didapatkan hasil yaitu
sampel batuan dengan nomor
peraga 2 ini bertekstur non-klastik karena terbentuk dari hasil aktivitas
kimiawi termasuk di dalamnya biokimia. Oleh karena sampel batuan yang dimaksud
bertekstur non-klastik, maka jenis sortasi yang dimiliki sampel adalah buruk
(poor sorted), atau dapat dikatakan tidak bersortasi. Untuk
sifat yang berikutnya yaitu struktur
batuan, hasil yang kami dapatkan adalah sampel tersebut memiliki struktur yang sama dengan sampel pada nomor peraga 1
yaitu silang-siur karena memiliki satu seri perlapisan yang saling memotong
dalam tubuh batuan. Berdasarkan hasil pengidentifikasian
yang kami dapatkan di laboratorium
sesuai hasil di atas, dengan pendekatan teori yang dapat
dibuktikan kebenarannya, maka dapat disimpulkan bahwa sampel batuan sedimen dengan nomor peraga 2 ini bernama gamping terumbu.
Selanjutnya,
pada percobaan ketiga yang kami lakukan terhadap sampel batuan sedimen dengan nomor urut peraga 3,
cara-cara dan metode yang kami terapkan juga sama dengan dua percobaan
sebelumnya. Kenampakan warna yang terkandung pada sampel yaitu putih dan cokelat kemerahan yang
mengindikasikan bahwa sampel batuan
sedimen
tersebut tersusun atas mineral
kuarsa, oksida besi dan lempung. Berbeda dengan sampel
yang kedua tadi, batuan sedimen
yang diberi tanda nomor peraga 3 ini bertekstur klastik karena sampel batuan merupakan hasil rombakan
material-material (batuan) yang telah ada sebelumnya, dengan jenis sortasi
yaitu poor sorted yang dikarenakan pemilahan butir pada sampel yang sangat buruk
dan tidak seragam. Aspek peninjauan selanjutnya adalah struktur batuan.
Berdasarkan pengamatan secara visual, jenis struktur yang paling mendekati
adalah berdegradasi karena pada sampel tampak sifat butir batuan yang semakin
ke bawah semakin halus dan sebagainya. Berdasarkan hasil
pengidentifikasian yang kami dapatkan di laboratorium dengan pendekatan teori
yang dapat dibuktikan kebenarannya, maka dapat disimpulkan bahwa sampel batuan sedimen dengan nomor peraga 3 ini bernama breksi.
Selanjutnya,
pengidentifikasian berlangsung pada sampel yang terakhir yaitu batuan sedimen
dengan nomor peraga 4, tentunya dengan langkah-langkah dan cara-cara yang
sepenuhnya sama dengan tiga sampel sebelumnya. Berdasarkan hal tersebut, maka
untuk sampel yang terakhir ini terlihat kenampakan warna berupa warna abu-abu,
hitam, dan agak kekuningan. Dari kenampakan warna tersebut, dapat ditentukan
jenis mineral yang terkandung dalam sampel yang dimaksud karena warna yang
nampak pada batuan yang diamati merupakan hasil interpretasi dari kandungan
mineral yang terdapat pada batuan tersebut. Dari kenyataan tersebut, maka dapat
disimpulkan bahwa sampel batuan dengan nomor peraga 4 ini tersusun atas mineral
plagioclase, dan mineral lempung. Oleh karena batuan sampel terbentuk dari hasil
rombakan material-material yang telah ada sebelumnya, maka jenis tekstur yang
dimaksud adalah klastik, dengan jenis sortasi yaitu well sorted karena pada
sampel tampak pemilahan butiran yang sangat baik dan seragam. Sedangkan untuk
strukturnya, karena ketebalan lapisan yang ukurannya lebih kecil dari 1 cm
(< 1 cm) dan nampak berlapis, jenis maka tekstur yang paling mendekati
adalah berlapis dengan spesifikasi laminasi. Berdasarkan data hasil
identifikasi yang dilakukan yang selanjutnya tetap harus berpedoman pada teori
yang ada, maka kami dapat simpulkan bahwa sampel batuan sedimen dengan nomor
peraga 4 ini bernama tuff.
3.7. Kesimpulan.
Identifikasi
batuan merupakan suatu kegiatan membuat deskripsi tentang suatu batuan
tertentu. Setelah identifikasi dilakukan, maka kita dapat dengan jelas memberi
nama batuan tersebut. Sifat fisika dan kimia yang umum dikenal dalam
mengidentifikasi batuan biasanya dibagi dalam 4 kategori sifat yaitu, warna,
tekstur, struktur, dan komposisi mineral pembentuk batuan. Batuan sedimen itu
sendiri merupakan batuan yang terbentuk dari endapan material yang berasal dari
pecahan, bongkah batuan yang hancur karena proses alam, kemudian terangkut
(tertransportasi) oleh air, angin, es dan terakumulasi dalam satu tempat
(cekungan), kemudian termampatkan/kompaksi (compacted) menjadi satu lapisan
batuan baru. Batuan sedimen memiliki ciri berlapis sebagai akibat terjadinya
pengulangan endapan.
3.8. Saran.
Adapun saran yang dapat
saya ajukan dalam laporan ini adalah sebaikmya dalam setiap kegiatan praktikum,
semua asisten yang telah diberikan kepercayaan penuh untuk membimbing kami
selaku praktikan agar keterlambatannya dapat diminimalisir. Sehingga dengan
keadaan seperti itu, akan timbul perasaan takut pada praktikan apabila
terlambat untuk mengikuti jalannya praktikum. Sedangkan untuk setiap praktikan
yang terlambat dalam mengikuti suatu kegiatan praktikum ataupun tidak memenuhi
kewajibannya dalam melengkapi alat dan bahan yang dibutuhkan dalam suatu
kegiatan praktikum, supaya diberikan sanksi yang tegas sebagai konsekuensi dari
keterlambatan dan ketidsakseriusan mereka, agar dapat menumbuhkan efek jera,
sehingga dalam pelaksanaan kegiatan praktikum selanjutnya dapat berjalan kondusif
sesuai dengan apa yang kita harapkan bersama.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim, 2013. Modul
Praktikum Geologi Dasar, Universitas Haluoleo, Kendari.
Fytri,
2012. Pengantar Geologi, http://fhey-three.blogspot.com/2012/01/klasifikasi-batuan-beku.html. Diakses
pada tanggal 08 April 2013.
Hamblin, 2004. The Earth’s
Dynamic Systems, Pearson/Pentrice Hall,
Upper Saddle River NJ.
Pettijohn,1964, Rift-basin Sedimentation Responses to
Climate Tectonisem and Volcanisem, Journal of African Earth Science. Afrika
Timur.
Simon,
Schuster. 1998. Rocks And Minerals.
Bruce Coleman Inc: New York.